Matahari bersinar begitu terik, tiap sudut ibukota selalu ramai. Polusi udara dan polusi suara sudah biasa setiap harinya. Langit yang begitu cerah bisa secara tiba-tiba berubah menghitam dengan bau gas emisi dari kendaraan-kendaraan yang berlalu-lalang. Suara cicit burung tersamar oleh bunyi klakson semua kendaraan yang sahut-menyahut tanpa henti.
Aku menjadi salah satu simbol kota ini, di kawasan Pancoran yang sering terendam banjir. Air itu menggenang dibawahku, merendam jalan-jalan disekitarku. Saat akhir hingga menjelang pergantian tahun, beberapa sudut kota ini memang diselimuti air. Tahun ini bencana banjir yang menimpa kota Jakarta lebih besar dibanding lima tahun lalu. Beberapa daerah tertutup air hingga tersisa atap rumah, perabotan rumah tangga banyak terbawa arus aliran air, seluruh penduduk mengungsi, evakuasi besar-besaran dilakukan. Kemanakah rencana pembangunan kanal? Yang terlihat hanyalah pengerukan tanah.
Selain itu setiap harinya udara didaerahku ini terselimuti asap kendaraan yang beracun. Aku sering berpikir bukankah telah ada peraturan uji emisi bagi kendaraan roda empat dikota ini, namun kendaraan tersebut masih berkeliaran karena entah diluluskan dengan embel-embel atau memang tidak mengikuti tes tersebut. Keluhanku ini ternyata terdengar oleh salah temanku dikawasan segitiga emas, “Tidak hanya daerahmu saja, lihatlah jalanku ini setiap harinya; macet!” Ia mengeluh lagi bahwa sisi kanan dan kirinya padat oleh kendaraan yang tak pernah absen karena saat akhir pekan malah melebihi dari kapasitas biasanya. “Kau tahu? Pukul tujuh tiap paginya, permadani abu-abu itu telah menjadi lautan benda kotak bertenaga mesin. Dengan sejumlah pemuda yang berkeliaran, menyebrang jalan, naik-turun alat transportasi umum atau ada yang hanya sekedar menunggu diperempatan jalan, mengais rejeki kata mereka. Kalau sudah seperti itu kota yang menjadi pusat pemerintahan negara kita ini menjadi semrawut.” Tak tahan maka aku menimpali, “memang sudah menjadi resiko bagi kawasanmu, dimana pusat bisnis dan perekonomian negara kita berkembang.”
Tak hanya aku dan temanku itu yang memiliki persoalan. Lihatlah di pusat kota, dibundaran dekat istana kau akan menemui temanku yang lain ditengah kolam sebagai saksi ketika anak negeri yang telah memakan bangku sekolah tertinggi berteriak-teriak menuntut janji sang penguasa. Dengarkanlah keluhannya bahwa tempatnya telah menjadi pusat orasi pemimpin pejuang tersebut, “aku selalu mendengar tuntutan-tuntutan keadilan disini.” Sebuah kebanggaan tersendiri baginya menatap mereka yang tak kenal lelah, namun terasa iba jadinya ketika permintaan itu tidak terpenuhi bahkan tidak dipedulikan. “Aku pun merasa bangga terhadap pejuang muda kita itu, mereka berkumpul ditempatmu untuk mengekspresikan kebebasan berpendapatnya.” jawabku. Namun kontras sekali terlihat ketika malam pergantian tahun yang penuh hura-hura, telah lupakah mereka akan kesatuan suara yang menuntut keadilan?
Tidak hanya mereka yang berjiwa muda berteriak-teriak menuntut keadilan, ibu-ibu rumah tangga dan keluarganya juga melakukan hal yang sama untuk mempertahankan rumah mereka yang akan diratakan dengan monster baja oleh satuan petugas. “Salah keluarga itu atau para petugas?” tanyaku pada temanku di perbatasan Soedirman dan Thamrin. “Keluarga itu membutuhkan tempat untuk berteduh dari panas dan hujan namun petugas itu pun hanya menjalankan tugasnya, membuat kota tertata rapi.” jawabnya, “Lalu bagaimana menurutmu?”
Terpikir olehku mengenai rumah-rumah yang dibangun bukan di atas tanah milik pribadi, tanpa surat atau legalitas resmi, memang tidak dibenarkan. Kemudian dimana mereka akan tinggal? Di bawah atap aspal atau dipinggiran aliran sungai yang makin lama makin menghitam, penuh dan berbau? Sudah tidak ada tempat lagi. Seluruh lahan dikota ini telah dibangun susunan beton-beton bertingkat tinggi yang hanya memuaskan nafsu duniawi semata. “Tak terbayangkan.” sahutku.
Inilah kota mereka, kotaku, kotamu, kota kita semua yang pembangunannya tak terealisasi sesuai rencana karena hanya rencana semata; absurd. Pembangunannya tak tertata rapi, masih setengah hati. Apa jadinya sepuluh tahun yang akan datang? Kota ini membutuhkan solusi, pemecahan yang tidak abstrak agar pembangunan kota berjalan tidak hanya sekedar blueprint. Aku tak kuasa memikirkan pemecahannya, aku hanyalah sebuah simbol kota ini yang akan selalu diam karena aku hanya sebuah karya buatan manusia. Celoteh keluh-kesahku hanya sebagai gambaran keprihatinan hati rakyat yang menginginkan perubahan.
Penulis: Rizki Tania
Pernah dimuat di Majalah Aspirasi tahun 2005
Penulis: Rizki Tania
Pernah dimuat di Majalah Aspirasi tahun 2005

No comments:
Post a Comment